Ramadan Bulan Sandiwara
foto: sumber pribadi
Sudah menjadi rutinitas tahunan,
bulan Ramadan disambut dengan berbagai macam kearifan lokal. Semua umat muslim
di berbagai belahan dunia pun berbahagia atas datangnya bulan mulia, bulan suci
Ramadan yang penuh dengan keberkahan ini.
Berbagai cara penyambutan pun dilakukan sebagai wujud suka cita dan
kegembiraan, dari mempersiapkan fisik jasadiyah kebendaan materil duniawi,
seperti mengganti warna cat pagar dan membersihkan setiap sentimeter
sudut-sudut rumah sampai rapi serta membersihkan kamar-kamar yang sudah setahun
tidak dibersihkan, mengganti gorden jendela, serbet kasur dan segala jenis
kegiatan duniawi lainnya yang mewarnai kehangatan dan antusiasme setiap orang
dalam menyambut bulan suci ini.
Tidak hanya sebatas segala rutinitas
dramanitas duniawi itu saja, setiap orang juga mulai membenahi hati, pikiran
dan perkataannya yang sesaat mungkin sering membuat hati tergoncang oleh sifat
iri, ujub dan takabur, pikiran yang kerap kali berburuk sangka (suuzon),
sampai lisan yang tidak pernah absen untuk menceritakan keburukan serta aib
orang lain. Mulai dari sini setiap orang akan menjaga hati, pikiran dan
perkataannya agar tidak tergelincir pada jurang kemaksiatan yang akan
menjadikannya bergelimang kesalahan dan dosa sehingga merusak pahala puasanya.
Tapi sadarkah kita, bahwa hal-hal
semacam itu justru malah membuat kita terlihat seperti seorang aktor drama
dalam sebuah film FTV? Loh, kenapa bisa seperti itu? Sabar, jangan tersulut
dulu api cemburu, eh api suuzon hehe. Coba sejenak kita merenung, jika perlu
berdiri di depan cermin untuk sejenak mengenal diri kita sendiri, karena
pepatah mengatakan “ngaji yang paling jauh itu adalah saat mengaji diri
sendiri, karena kadang luput dari pantauan dan jangakauan pribadi”. Teringat
perkataan seorang dalang melalui permainan wayangnya yang diperankan si cepot,
tokoh jenaka dalam cerita pewayangan, si cepot pernah memberikan petuah “lamun diajar, ulah jauh tinu diri ulah
anggang tinu rasa” kurang lebih maksudnya “pelajarilah tentangmu”.
Kembali pada topik Ramadan, coba sekarang
kita jujur pada kepada setiap diri masing-masing. Siapa kita dan seperti apa
kita sebenarnya? Benarkah kita yang berwajah dan berperangai manis di bulan Ramadan
adalah diri kita yang sebenarnya? atau
diri kita yang sedang bersandiwara memerankan tokoh protagonis dalam sebuah
drama? Siapakah yang tiba-tiba rajin beribadah, yang tidak terlepas seorang
perempuan dari jilbab panjang dan mukenanya , laki-laki dari sarungan dan baju
kokonya? Diri kitakah itu? atau itu hanya sekedar watak dan prilaku orang saleh
yang sedang kita perankan karakternya dalam sebuah sandiwara panggung
pementasan? Seperti apa kita sebenarnya? Berjuta pertanyaan tiba-tiba muncul
didalam benak penulis, dan mungkin pertanyaan-pertanyaan itu sekarang sudah
menjadi milik kalian juga, pembaca yang budiman.
Tanpa sedikit pun mengurangi rasa
bangga dan bahagia karena melihat mayoritas kaum muslimin meningkatkan kadar
keimanan dan kesalehannya, bukan untuk mengucilkan siapapun atau menyinggung
hati siapapun, tapi sekedar hanya ingin mengajak setiap orang dengan kebanggaan
dan rasa syukur yang sama dengan yang saya rasakan, karena
masih berkesempatan untuk kembali menikmati jamuan Ramadan berupa janji
pahala yang berlipat ganda dari setiap amal saleh yang dilakukan, untuk
sama-sama mengintroveksi kinerja kita masing-masing setelah Ramadan kelak
berlalu.
Analogi sederhana yang mungkin bisa
mewakili kita saat ini. Bayangkan ketika kita sedang berada di rumah dan kita
mendapat kabar bahwa pejabat penting akan bertamu ke rumah kita, kira-kira apa
yang akan kita lakukan? Sudah barang pasti karena senang luar biasa, merasa
terhormat karena kedatangan pejabat penting, kita akan mulai membenahi rumah
yang berantakan agar bersih dan rapi, halaman di sapu sampai tak satupun daun
berjatuhan, dan tak kalah penting yaitu membenahi diri sendiri. Mulai
mempersiapkan pakaian terbaik, bagi perempuan mengenakan pakaian yang amat
sangat sopan berkerudung rapi menutup setiap lekuk tubuh auratnya, agar
terlihat anggun dan punya sopan santun di hadapan pejabat penting. Mulai
belajar berkata-kata yang lembut dan belajar bertatakrama.
Bolehkah melakukan hal semacam itu? Ya!
sangat boleh. Tapi yang jadi permasalahan adalah, kenapa kerapihan, kesopanan,
kebersihan, kerendahan hati itu tidak kita jaga dan pelihara terus, bahkan
meskipun tamu telah berlalu? Bagi perempuan, kenapa tidak mempertahankan busana
rapi nan sopan itu terus melekat pada dirinya? Bukankah sangat bagus jika
berpakaian rapi, bersih, berperilaku baik di hadapan semua orang dan dalam kondisi
apapun? Kenapa harus menanggalkan kembali jilbab yang sudah menutup rapi rambut
dan tubuh hanya karena tamu penting telah pergi? Kenapa hanya dihadapan pejabat
penting saja mau berperilaku seperti itu? Bukankah itu hanya sandiwara, karena
bukan dirimu yang sebenarnya? Alangkah baiknya jika berperilaku baik itu bukan
hanya sebatas sandiwara momentum tertentu, tapi terus melekat menjadi perilaku
kita yang tak kenal ruang dan waktu. Begitu pun dengan rutinitas kita di bulan Ramadan,
kenapa tidak kita pertahankan rajinnya kita baca Alquran, shalat lima waktu
beserta sunnahnya, bersedekah, berkata baik
dan amal-amal kebajikan lainnya, bahkan meskipun setelah ramadan
berlalu.
Saya pernah mendengar seorang ustaz
menerangkan perihal puasa, katanya berpuasalah kalian sebagaimana ulat berpuasa,
ulat yang awalnya berpindah tempat hanya dengan merayap, lamban, menjijikkan,
tidak enak dipandang bahkan gatal bila dipegang. Tapi setelah dia berpuasa di dalam
kepompong menahan lapar, haus. Selang beberapa waktu dia keluar dengan wujud
yang indah dipandang jauh dari kata menjijikkan, derajatnya naik dari yang
tadinya merayap di bawah, lamban, kini bisa terbang dan pindah dari satu tempat
ke tempat lain dengan sangat mudah, dan kini rasa gatalnya berkurang bila
dipegang atau bahkan tidak gatal sama sekali, ulat akan terus mempertahankan
keindahannya sebagai kupu-kupu sampai dia mati tanpa pernah sedikit pun
berpikir akan menjadi ulat lagi, dia tidak bersandiwara perihal keindahannya,
luar biasa si ulat.
Tapi janganlah kalian berpuasa
seperti ular katanya. Ular juga berpuasa menahan diri dari nafsu hewaninya,
tapi apa yang didapat ular dari puasanya, dia hanya mengganti kulit luarnya
saja menjadi lebih indah, baru dan terlihat muda. Tapi sifat pribadinya sama
sekali tidak berubah, ular tetap saja menggigit, meracuni, dan memangsa makhluk
hidup lain yang lebih lemah darinya. Sungguh hasil dari puasanya tidak lebih
hanya sekadar mengganti baju (kulit) saja.
Maka alangkah bagusnya jika kebaikan
kita, kesalehan kita, rajinnya kita di bulan Ramadan selama satu bulan penuh
menjadi kebiasaan yang berulang sehingga menjadi habitat yang akan terus
melekat dalam diri kita, baik pada saat bulan Ramadan maupun pada bulan-bulan
yang lain, kita menjadi pribadi yang baru yang lebih baik daripada pribadi kita
sebelumnya, seperti ulat tadi. Sehingga rajinnya kita beribadah di bulan Ramadan,
menjadi baik dan salehnya kita, tidak seperti sedang bersandiwara.
Wallahua’lam~
ditulis oleh: Founder Pangajian Biasaa, Kurniawan Aziz (@azriez.in).

Wah mantap, keren bangš
BalasHapus