Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

[2] Bahagia?

Gambar
"Bahagia itu tanggung jawab siapa?" tanyaku kepadamu. " Menurutmu?" "Ih ko balik nanya sih? aku kan mau tahu pendapatmu"  "Bahagia itu tanggung jawab kamu," "Hah? ko aku?" "Ya jelas kamu" "Kenapa bisa aku?" "Terus kalau bukan kamu siapa?" Aku sedang mencerna semua yang dikatakanmu. "Karena kamu yang bertanya, tentu kamu-lah jawabannya" Aku semakin tidak mengerti dengan ucapanmu. Kamu suka sekali membuat orang lain berpikir keras. Kebiasaan. "Manusia sering kali merasa bahwa bahagia bukan tanggung jawab pribadi. Mereka suka sekali menggantungkan bahagia kepada orang selain dirinya. Entah kenapa harus seperti itu?" "Manusia merasa bahwa orang selain dirinya dapat membuatnya lebih bahagia" "Omong kosong, tidak ada orang yang bahagia karena orang lain jika dia belum bisa membahagiakan dirinya sendiri" "Buktinya banyak yang senang dan tertawa" "Senang dan t...

[1] Gelap?

Gambar
Terang, tak lagi benar-benar mewakili hilangnya kegelapan. Dalam ruang yang syak dari cahaya, terang justru hadir dalam situasi kedap semacam itu. Tegasnya, suatu gemerlap justru hadir kala langit berselimut gelapnya udara malam.  Dalam renungan itulah, Bintang termenung. Ditemani hujan yang mendebur atap-atap langit yang tampak agak rembes dimakan kuyup.  Dirinya, tengah mencari arti dari gelap yang sedang melingkupi hidup pahitnya, memaksa dirinya betah dengan teror dari sesat langkah di masa mendatang. Menjauhkannya dari dunia, ke luar dunia yang tak ber-ruang fisik adanya.  Dalam pikir panjangnya, dia bersahut "Andai gelap adalah kebenaran, maka aku akan menjadi pembela yang paling utama. Jikalau gelap adalah ajaran dari Tuhan, maka aku akan bersedia menjadi hambanya" .  Namun, apakah itu mungkin? Kala primodialitas manusia justru berbicara menyoal gelap sejak dahulu. Gelap kerap menjadi lawan determinan dari cahaya yang tak lain telah mewarisi simbol dari kebena...

[4] Kagum

Gambar
  Namanya Bagas Pratama. Nama yang pertama kali berhasil mendebarkan hatiku setiap kali ada yang menyebutnya. Nama milik seseorang yang memiliki senyuman terhangat sekampus. Aku mengaguminya sejak pertama kali ia muncul di hadapanku sekitar dua tahun yang lalu sebagai ketua ospek. Suaranya lembut, perilakunya hangat dan tampangnya jangan ditanya lagi, menurutku dia malaikat yang turun dari langit dan hidup di bumi, hehehe. Kami tidak dekat, kami hanya sebatas junior dan senior, tidak lebih. Tapi jika harus jujur, aku sangat ingin dekat dengannya lebih dari sebatas kata junior-senior. Aku hanya bisa berharap beberapa hal tentangnya. Semoga semesta dan waktu memihak kepadaku, setidaknya membuat pertemuan singkat antara aku dengannya atau memberiku kesempatan ada di hidupnya.  ~~ "Ra, kamu jadi ikut daftar senat?" tanya Ira menghampiriku yang sedang asyik melihat-lihat instagram senat kampus yang di dalamnya ada beberapa foto milik seseorang yang sangat kukagumi. "Jadilah,...

[3] [Lebih dari Sahabat]

Gambar
Rio tak pernah menyangka jika perasaannya kepada Kiara lebih dari sahabat. Ia tidak bisa lebih lama memendam perasaan tersebut. Ia ingin sekali mengungkapkannya tetapi di sisi lain ia juga takut kehilangan sahabat perempuan satu-satunya tersebut. "Yooo.." panggil Kiara dari kejauhan. Tangannya melambai diiringi sebuah senyuman manis yang paling disukai Rio. "Lo kemana aja, gue cari-cari ke ruang radio gak ada. Lo ga biasanya ada di taman," tanya perempuan yang kini duduk di sebelah Rio dengan nafas yang masih terengah-engah. "Gue ada perlu di sini." "Lo ada perlu apa di taman, gak biasanya. Oh gue tau, gue tau, lo lagi janjian ya?" tebak Kiara sok tahu, "anak mana sekarang? Anak kedokteran lagi atau anak komunikasi?" Rio hanya tersenyum ketika sahabatnya berusaha menebak perempuan yang kencan dirinya. Nyatanya hatinya tak pernah memilih perempuan mana pun, hanya ada sosok Kiara yang mengisi hatinya. "Menurut lo anak mana?" ...

[2] Cinta Pertama

Gambar
  Jalanan kota Jakarta sedang sepi, mungkin karena hari ini car free day (CFD) meskipun hanya sampai jam 09.00, tetapi ruang hatiku berisik seolah-olah sedang asyik mengobrol. Aku terdiam menatap jalanan kota dan lelaki yang kini berada di sebelahku sedang khusyuk menghisap rokok dan sesekali tingkah jailnya muncul, meniupkan asapnya tepat di depan wajahku. Setiap kali momen itu terjadi, aku ingin sekali marah karena aku tidak pernah menyukai aroma rokok dan asapnya tetapi lidahku kelu dan malahan mulutku  secara tidak sadar membentuk bulan sabit diikuti mata menyipit setelah mendapat perlakuan anehnya. Aku tersenyum, tingkah dan semua hal yang bertentangan denganku adalah hal kecil yang perlahan aku sukai darinya. Entah kapan perasaan ini muncul, tetapi seingatku, waktu bekerja sama untuk keberhasilan munculnya perasaan ini. "Kenapa sih kamu ngelakuin hal yang kayak gitu terus?" tanyaku sembari mengibas-ngibas asap yang baru saja ia tiupkan di depan wajahku. Aku mundur perl...

[1] Suka sama Junior

Gambar
  Aku memandangnya dari kejauhan. Senyumannya manis lengkap dengan wajahnya yang lebih tampan dari teman-temanku di kuliah. Selama kajian berlangsung, mataku sesekali memperhatikannya, melihat senyumnya, tingkahnya bahkan berusaha menebak apa yang dibisikkannya kepada teman sebelahnya. Tanpa kusadari, aku membuat beberapa bait puisi tentang perasaan yang kurasakan saat ini ketika memandangnya. Berbunga-bunga dan merasa sangat bahagia, padahal lelaki tersebut tidak melakukan sesuatu yang membuat hatiku terenyuh. Aku tidak mengerti perasaan macam apa yang memenuhi dadaku. Entah perasaan suka atau hanya sebatas rasa yang hadir sesaat dan mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku tidak akan bisa bersamanya, itu yakinku, karena dia juniorku bahkan muridku selama magang di Yayasan Berdaya Umat. Tetapi, aku juga tidak bisa menahan perasaanku untuk tetap muncul. "Kita tidak pernah tahu rasa itu tumbuh, kemana ia kan meneduh" adalah ungkapan yang berhasil menyemangatiku bahwa...

Sebuah Patah

Aku kecewa bahkan terluka. Apa yang dia lakukan padaku tidak terpikirkan sebelumnya. Kami sudah lima tahun menjalin hubungan dan tidak ada hal serius yang membuat hubungan kami retak bahkan hancur. Kini hubungan itu tinggal puing dan kenangan yang bila diingat air mataku jatuh membasahi pipi. Tepat tanggal 21 November, aku merayakan anniversary yang ke 5 dengannya. Kami pergi ke sebuah taman yang dipenuhi bunga Dandelion dengan membawa dua kantong makanan dan minuman berserta tikar. Tak lupa kamera dan buku catatan kecil untuk mengabadikan setiap momen yang kami lewati. Masih terlintas jelas dalam benakku ketika aku sedang sibuk memotret Dandelion, dia memanggilku dengan lambaian tangannya. “Sini, Ada yang mau aku ungkapkan” , ucapnya singkat dengan senyum kecil. “Hmm ngomong aja” , gumamku dengan pandangan sibuk melihat-lihat foto yang baru saja ku potret. Hening, tak ada suara. “Bukannya dia mau ngomong ya?” , pikirku dalam benak. Saat kepalaku terangkat, dia tepat ada di ha...

Gugur yang sendu

Daun berguguran bersamaan dengan gugurnya kebersamaan yang telah kita pupuk bersama selama 1 tahun ini. Aku masih belum bisa menerima semua yang sebenarrnya terjadi dalam hidupku. Tanpa sepatah kata, kau tega meninggalkan, hanya sepucuk surat dan sehelai batang daun kering di atas kursi yang menjadi saksi kepergianmu pada 2 bulan yang lalu. Aku tak percaya kamu melakukannya. Tega. Tepat pukul 00.10, aku terbangun sesaat sebuah nada dering telpon terus saja berdering tanpa henti. Masih dengan mata tertutup, tanganku dengan lemas mengambil handphone yang tergeletak di atas meja sebelah kasur. Tangan kiriku masih mengucek mata yang sedikit masih menempel. Mataku terbelalak sesaat melihat sebuah panggilan dengan sebuah nama yang tak asing. Perlahan tanganku bergetar dan mulai melempar handphone ke lantai dengan kerasnya tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi dengan handphone. Dadaku mulai sesak dengan pikiran yang tak karuan. Mataku panas dan cairan itu pun akhirnya jatuh. Air mata...

Cerbung-1

KENANGAN Di suatu malam yang sunyi sepi tepat pukul 20.00 WIB, aku duduk di sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat sebuah tv box yang disambungkan ke sebuah layar monitor. Ruangan tersebut adalah ruangan tempat aku menonton tv bersama keluarga. Di setiap malam kita berkumpul bersama di ruangan tersebut untuk menonton channel favorit kita. Terkadang ruangan tersebut pun kami gunakan sebagai tempat untuk makan bersama. Ruangan kecil dan penuh cerita di dalamya selalu membuatku merindukannya. Apalagi kalau sudah masuk ke dalam masalah pertengkaran adik-adik kecilku yang saling memperebutkan remote untuk memindahkan chanel yang mereka inginkan. Ya, aku hanya terdiam memperhatikan tingkah mereka yang sangat lucu tapi terkadang mengesalkan dengan keadaan seperti itu karena sangat mengganggu fokusku ketika menonton. Mungkin kalau dilihat sekilas, ruangan tersebut terlihat sangat kumuh. Namun ruangan tersebut adalah ruangan yang paling banyak menyaksikan realita kehidupan yang terjadi ...

Kado Terindah Rere

Cahaya gemerlap bintang memberikan kesan tersendiri untuk seseorang yang sedang di mabuk cinta. Hembusan angin yang begitu dingin menusuk sukma terdalam. Tangannya tak henti menulis untaian kata berbentuk diksi. Lagu sendu pun mengiringi malamnya yang sepi. Seorang gadis cantik jelita duduk dengan santai di depan notebook kecil berwarna silver, tangannya tak henti membenarkan kaca matanya yang terlihat begitu besar. “ Derrr.. ”: Bunyi getar suara notifikasi masuk. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur spring bed berukuran sedang. “ Ada yang mau gue omongin besok.. ”, potongan kalimat yang tertera di layar ponselnya. Dahinya pun berkeriut melihat kalimat tersebut. Ia pun langsung membuka lock ponselnya dan mulai menuju aplikasi telegram untuk membaca secara lengkap pesan tersebut. “ Rere.... ”: Teriak seorang laki-laki bertubuh tinggi dari balik pintu kamarnya. “ Iya kak, ada apa? ”: Tanya gadis berkaca mata yang bernama Rere. Belum sempat d...