Gugur yang sendu
Daun berguguran bersamaan dengan gugurnya kebersamaan yang telah kita pupuk bersama selama 1 tahun ini. Aku masih belum bisa menerima semua yang sebenarrnya terjadi dalam hidupku. Tanpa sepatah kata, kau tega meninggalkan, hanya sepucuk surat dan sehelai batang daun kering di atas kursi yang menjadi saksi kepergianmu pada 2 bulan yang lalu. Aku tak percaya kamu melakukannya. Tega. Tepat pukul 00.10, aku terbangun sesaat sebuah nada dering telpon terus saja berdering tanpa henti. Masih dengan mata tertutup, tanganku dengan lemas mengambil handphone yang tergeletak di atas meja sebelah kasur. Tangan kiriku masih mengucek mata yang sedikit masih menempel. Mataku terbelalak sesaat melihat sebuah panggilan dengan sebuah nama yang tak asing. Perlahan tanganku bergetar dan mulai melempar handphone ke lantai dengan kerasnya tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi dengan handphone. Dadaku mulai sesak dengan pikiran yang tak karuan. Mataku panas dan cairan itu pun akhirnya jatuh. Air mata...