Postingan

Menampilkan postingan dengan label prosa

Gugur yang sendu

Daun berguguran bersamaan dengan gugurnya kebersamaan yang telah kita pupuk bersama selama 1 tahun ini. Aku masih belum bisa menerima semua yang sebenarrnya terjadi dalam hidupku. Tanpa sepatah kata, kau tega meninggalkan, hanya sepucuk surat dan sehelai batang daun kering di atas kursi yang menjadi saksi kepergianmu pada 2 bulan yang lalu. Aku tak percaya kamu melakukannya. Tega. Tepat pukul 00.10, aku terbangun sesaat sebuah nada dering telpon terus saja berdering tanpa henti. Masih dengan mata tertutup, tanganku dengan lemas mengambil handphone yang tergeletak di atas meja sebelah kasur. Tangan kiriku masih mengucek mata yang sedikit masih menempel. Mataku terbelalak sesaat melihat sebuah panggilan dengan sebuah nama yang tak asing. Perlahan tanganku bergetar dan mulai melempar handphone ke lantai dengan kerasnya tanpa menghiraukan apa yang akan terjadi dengan handphone. Dadaku mulai sesak dengan pikiran yang tak karuan. Mataku panas dan cairan itu pun akhirnya jatuh. Air mata...

Kata Diksi

Sedari tadi jemari tak henti menenun untaian kata prosa dalam media bertuah. Hati seperti dihantam batu masalah yang menghujam bak longsor yang tak dihentikan. Pikiran bercabang merangkai partikel-partikel kecewa yang tak berkesudahan. Mencipta jaring yang disimpul sekreatif mungkin agar tak terurai. Tubuh tak henti bergetar ingin terlempar. Ternyata cinta hampir menebas rasional. Bahkan sepi pun menjadi teman setia. Ku pegang dada kuat agar terus bertahan tak terbawa asa. Hampir saja hati terkuliti luka derita. Namun sekali lagi ku genggam pena itu dengan kuat agar prosa yang ku cipta tak tertusuk duri. Akhirnya bibir pun merekah menatap prosa yang tercipta sempurna.