[2] Cinta Pertama
Jalanan kota Jakarta sedang sepi, mungkin karena hari ini car free day (CFD) meskipun hanya sampai jam 09.00, tetapi ruang hatiku berisik seolah-olah sedang asyik mengobrol. Aku terdiam menatap jalanan kota dan lelaki yang kini berada di sebelahku sedang khusyuk menghisap rokok dan sesekali tingkah jailnya muncul, meniupkan asapnya tepat di depan wajahku. Setiap kali momen itu terjadi, aku ingin sekali marah karena aku tidak pernah menyukai aroma rokok dan asapnya tetapi lidahku kelu dan malahan mulutku secara tidak sadar membentuk bulan sabit diikuti mata menyipit setelah mendapat perlakuan anehnya. Aku tersenyum, tingkah dan semua hal yang bertentangan denganku adalah hal kecil yang perlahan aku sukai darinya. Entah kapan perasaan ini muncul, tetapi seingatku, waktu bekerja sama untuk keberhasilan munculnya perasaan ini.
"Kenapa sih kamu ngelakuin hal yang kayak gitu terus?" tanyaku sembari mengibas-ngibas asap yang baru saja ia tiupkan di depan wajahku. Aku mundur perlahan lebih jauh darinya.
Dia menghisap rokoknya dan berkata, "kata orang, jika saya meniupkan asap rokok yang sedang saya hisap, orang tersebut akan jatuh cinta kepada saya."
Aku tertawa kecil mendengar jawaban anehnya. Apa sih yang ada di pikirannya.
"Mitos itu.." bantahku.
Dia menoleh menatapku, "saya akan mengubahnya menjadi nyata," mulutnya kembali membentuk huruf O, meniupkan asap rokoknya kembali kepadaku.
"Udah...udah jangan kayak gitu. Tanpa melakukan hal seperti itu. Aku sudah jatuh cinta kepadamu," tanpa sadar aku mengutarakan isi hatiku untuk menghindari asap rokok yang mulai membuatku terbatuk-batuk.
Beberapa detik setelahnya aku menutup mulutku dan diam-diam mengintip ekspresinya yang terlihat biasa saja setelah mendengar pengakuanku. Dia denger gak sih?
"Kamu tunggu dulu ya, saya pergi kesana dulu," pamitnya yang aku kira dia akan menanggapi ucapanku tadi.
Aku mengangguk dengan perasaan malu memenuhi dadaku. Kayaknya dia gak denger.
Selang beberapa menit dia pergi entah kemana. Tiba-tiba pikiranku melayang jauh ke hari dimana aku pertama kali bertemu dengannya, 4 tahun yang lalu di warung kopi yang kini jadi tempat favorit kita nongkrong.
"AKU UDAH SEJAM NUNGGU DI SINI, JADI GAK SIH KAMU KESINI?" bentakku dari balik telepon kepada teman dekatku yang memiliki kebiasaan yang sangat aku benci, menunggu berjam-jam di suatu tempat. Tanpa sempat dia menjawabnya, aku langsung menutup telpon tersebut dan menggeletakannya di atas meja.
Hari itu, hujan mengguyur jalanan ibu kota. Aku selamat dari guyuran hujan karena berhasil masuk ke dalam warung kopi yang dijanjikan sebagai tempat kita bertemu. Hari itu juga, semua meja terisi penuh dan hanya tersisa satu meja untukku tempati. Aku menunggunya di sana hampir satu jam yang lalu dan dia tak kunjung datang. Aku tahu dia memiliki kebiasaan buruk seperti itu tetapi untuk keskian kalinya aku memberinya kesempatan karena dia memohon-mohon tidak akan terlambat. Namanya kebiasaan tidak mudah untuk diubah, itulah yang aku yakini. Begitu juga, kebiasaanku yang tak pernah bisa sengaja datang terlambat ketika ada janji temu dengannya.
Aku hanya bisa mengumpat ketika dia tak pernah bisa menepati janjinya untuk tidak terlambat. "Manusia memang tidak bisa berubah..."
"Namanya juga manusia..." suara asing menelisik masuk ke dalam telingaku dengan spontan aku menoleh ke asal suara tersebut dan menemukan seseorang yang sering kulihat di lingkungan kampus duduk di hadapanku.
"Terlahir berbeda," lanjutnya sembari menghisap rokok dengan tangan kanannya dan tangan kirinya meletakkan gelas bening berisi kopi panas yang mungkin baru ia ambil dari si Ibu warung.
Aku mengkeriyutkan alisku dengan benak bertanya, siapa dia? Kenapa tiba-tiba duduk di tempatku?
"Perkenalkan saya Rangga, anak jurusan komunikasi. Kamu Raisa kan? Anak psikologi?" katanya yang mengetahui namaku.
Aku tak langsung menjawabnya, tetapi malah berpikir bagaimana bisa dia mengetahui namaku? Jangan-jangan dia penguntiit?
"Oh iya sorry saya duduk di sini, soalnya tempat yang lain penuh dan hanya tempat ini kursinya yang kosong."
Aku mengangguk. Tanpa alasan yang jelas, hatiku merasa sangat aman dan nyaman dengan kehadirannya. Seseorang yang hanya kulihat dari kejauhan, seseorang yang sudah kutahu namanya sejak lama, seseorang yang selalu membuatku kagum ketika melihatnya demo karena aturan kampus yang memberatkan mahasiwa, seseorang yang secara sepintas ingin aku dekati, seseorang apa adanya yang terlihat seperti mahasiwa nakal tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Dan hari ini, aku duduk berhadapan dengannya dan dia mengajakku mengobrol seputar hal yang tak pernah aku obrolkan dengan orang lain. Aku meyakini bahwa takdir perjalanan rasaku baru dimulai hari ini, meskipun perasaanku saat ini sebatas kagum tapi entah hari esok, akankah dengan rasa yang sama atau rasa yang berbeda, aku tak pernah tahu itu.
.
.
.
"Sa..."
Aku menoleh setelah berhasil mengingat kenangan pertamaku dengannya. Dia berjalan ke arahku dengan membawa dua cup eskrim favoritku, es krim strawberry dengan parutan keju. Aku menatapnya lekat dengan perasaan yang tak pernah berubah kepadanya. Aku menyayanginya dan akan selalu begitu, tanpa tahu bagaimana perasaannya kepadaku. Sejak pertemuan pertamaku dengannya hingga hari ini, dia selalu menjadi sosok pertama yang menempati ruang kosong di hatiku yang mungkin kita sebut cinta pertama. Bagiku, hal-hal sederhana yang dibawa masuk olehnya ke dalam hidupku adalah hal-hal yang berhasil aku maklumi tanpa konflik batin.
"Maaf lama," dia duduk di sebelahku dan memberikan es krim tersebut.
"Iya enggak apa-apa asalkan ada ini," aku menyendok es krim yang terasa sangat meleleh di lidahku.
"Sa..."
"Iya?"
"Sejak pertama saya melihatmu waktu itu dan kamu pun sudah dengar ceritanya kan? Saya..."
Aku memotong pembicaraannya seperti biasanya karena penasaran, "kapan kamu cerita? Yang mana?"
"Itu yang saya melihatmu di halaman kampus sedang memarahi temanmu karena gak tepat janji."
"Oh itu."
"Saya sudah memiliki perasaan yang tidak biasa itu."
"Maksudnya?"
"Iya saya sudah jatuh cinta kepadamu sebelum kita benar-benar bertemu dan mengobrol, tetapi..."
"Tapi?"
"Saya hanya bisa mengungkapkan perasaan saya, tetapi saya belum bisa meresmikan perasaan tersebut menjadi suatu hubungan. Karena saya tidak main-main dalam perasaan. Masih banyak hal yang harus saya persiapkan untuk menjadikanmu tokoh utama dalam kisah saya. Saya tidak ingin menjanjikan ketidakmungkinan kepadamu, saya ingin memberikan kenyataan wujud dari perasaan saya dan kita juga tahu bahwa untuk mewujudkan hal tersebut butuh proses yang panjang."
Aku berusaha untuk mencerna semua ucapannya dan kembali seperti dulu, berusaha tak terlalu banyak berharap atas kisah kita. Karena aku juga memaklumi kekhawatirannya meskipun mungkin saja di esok nanti perasaannya akan berubah atau tidak. Aku hanya berharap yang terbaik saja dari waktu dan semesta.
"Iya Ga, gpp."
Kami saling tersenyum dan kembali menikmati suasana jalanan ibu kota yang mulai kembali normal. Hatiku cukup lega mendengar jawabannya dan itu sudah lebih cukup bagiku. Aku sadar, perasaan adalah hal rawan yang tak pernah bisa dengan mudah kita kendalikan kapan tumbuh dan hilang apalagi jika berbicara perasaan orang lain. Kita hanya bisa sebatas mengendalikan perasaan kita. Dan untuk perasaan orang lain, kita hanya bisa menerima apa pun yang mereka ingin putuskan, menumbuhkan perasaan bersama atau pergi lebih dulu tanpa sebuah cerita.

Komentar
Posting Komentar