Ronggeng Dukuh Paruk: Buku Pertama📚
Novel ini merupakan penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.
Kalimat itu sebenarnya sempat kubaca sekilas sebelum aku mulai membuka halaman pertama buku ini. Namun, karena aku memang tidak familiar dengan novel ini dan segala hal yang berkaitan dengannya, tulisan tersebut kuabaikan begitu saja. Hingga pada hari keempat proses membaca, aku baru benar-benar menyadari bahwa novel yang sedang kubaca adalah gabungan dari tiga novel yang dimuat menjadi satu buku utuh setebal 520 halaman. Aku cukup terkejut—dan jujur saja, aku menertawakan diriku sendiri yang begitu polos dan tidak tahu-menahu tentang buku yang sedang kubaca.
Bagiku, membaca buku tanpa mengetahui spoiler isinya adalah hal yang sangat kusyukuri. Berbeda dengan film—aku justru akan “melahap” habis spoiler yang berseliweran di jagat media sosial. Ada kenikmatan tersendiri saat membiarkan sebuah buku membuka dirinya perlahan, tanpa ekspektasi yang dibentuk lebih dulu.
Namun akan sangat tidak jujur jika aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak tahu buku ini bercerita tentang apa. Sejujurnya, yang aku ketahui hanyalah bahwa novel ini membahas tentang perempuan dan banyak direkomendasikan oleh beberapa akun BookTok. Tidak lebih, tidak kurang. Rasa penasaran itulah yang akhirnya membuatku menambahkannya ke dalam daftar buku yang ingin kubeli. Tak disangka, aku berhasil mendapatkannya setelah—dengan cara yang sangat sederhana—meminta pasanganku untuk membelikannya.
Kami memang anti kode-kodean. Jika menginginkan sesuatu, kami memilih untuk mengatakannya secara langsung. Aku tidak ingin menambah beban pikiran dengan berharap dibelikan sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan olehnya. Berterus terang kepada pasangan tentang apa yang kita inginkan adalah langkah paling mudah yang kami pilih dalam hubungan ini.
Kembali ke buku ini. Aku ingin merangkum beberapa hal yang kudapatkan setelah menyelesaikannya dalam waktu empat hari, dengan perasaan “hah” yang masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Perasaan pertama yang muncul saat membaca novel ini mengingatkanku pada pengalamanku membaca Rara Mendut karya Romo Mangunwijaya. Ada rasa takut—takut tidak mengerti, tidak paham, dan tertinggal oleh cara penulis menyampaikan ceritanya. Saat membaca Rara Mendut, aku benar-benar harus bergelut dengan bahasa: kadang paham, kadang justru bingung. Namun perasaan itu kuabaikan. Aku menganggapnya sebagai ujian ketahanan diri dalam menghadapi genre bacaan yang selama ini tak pernah masuk ke dalam daftar bacaku.
Ternyata, membaca Ronggeng Dukuh Paruk justru membuatku nyaman menikmati setiap baris kata yang disusun Ahmad Tohari. Hingga kemudian muncul perasaan berikutnya: ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan terhadap isi cerita yang dengan begitu telanjang menjadikan perempuan sebagai objek. Kultur budaya yang diwariskan secara turun-temurun di Dukuh Paruk tidak mampu menyelamatkan perempuan—bahkan anak perempuan yang masih sangat muda.
Di usia sebelas tahun, Srintil terjebak dalam jeruji budaya yang mengharuskannya menjadi seorang ronggeng. Berbekal keyakinan Sakarya, “Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” seorang anak kecil akhirnya ditetapkan pada peran yang akan melekat seumur hidupnya.
Bagian pertama buku ini sebagian besar diceritakan dari sudut pandang seorang laki-laki bernama Rasus—teman bermain Srintil sejak kecil. Ketertarikan Rasus kepada Srintil sangat berbeda dengan ketertarikan penduduk desa yang memujanya sebagai ronggeng. Bagi Rasus, Srintil adalah penjelmaan Emak—ibunya—yang tidak pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Mungkin aku bisa mengatakan bahwa Rasus adalah satu-satunya orang yang sedikit “waras” di pedukuhan Dukuh Paruk.
Sebagai pembaca, aku tidak bisa memandang cerita ini hanya dari satu sisi. Di satu sisi, aku mengutuk segala hal yang menginferiorkan perempuan. Namun di sisi lain, aku juga harus memahami cara pandang penduduk Dukuh Paruk. Bagi mereka, hal-hal yang bagiku terasa tidak wajar justru merupakan sesuatu yang sangat lumrah—terutama karena dibentuk oleh budaya yang begitu kuat. Ronggeng adalah angin segar bagi penduduk desa yang hidup dalam paceklik dan rutinitas monoton. Setelah sebelas tahun Dukuh Paruk sunyi tanpa ronggeng, kehadiran Srintil menjadi peristiwa besar yang membekas dalam ingatan kolektif mereka.
Pada awal pembacaan, novel ini banyak mengulik kehidupan penduduk Dukuh Paruk dan posisi ronggeng yang tak terpisahkan dari pedukuhan itu. Semakin jauh aku membaca, semakin sering aku menggumamkan “hah”, terutama saat sampai pada rangkaian ritual yang harus dijalani Srintil sebelum dinobatkan sebagai ronggeng sejati. Ia dipaksa menjalani hal-hal yang jelas tidak sepadan dengan usia dan pemahamannya. Srintil hanya tahu bahwa ia mencintai tari dan ingin menjadi ronggeng karena kecintaannya itu—tanpa pernah benar-benar memahami rangkaian “kegilaan” yang harus ia lalui demi mewujudkan keinginannya.
Pandangan Rasus yang memosisikan Srintil sebagai bayangan Emaknya perlahan memudar seiring perjalanannya ke luar desa. Rasus mulai menyadari bahwa apa yang dianggap wajar di Dukuh Paruk tidak berlaku demikian di dunia luar. Ia menemukan kelegaan: beban batin tentang sosok Emak yang selama ini mengusiknya perlahan terurai. Ia juga sampai pada kesadaran bahwa mencari-cari wajah Emak justru hanya melahirkan keresahan. Ia yakin bahwa Emak yang selama ini ia bayangkan tidak sedikit pun mirip Srintil.
Dunia Rasus pun meluas—tak lagi sebatas pemukiman sempit bernama Dukuh Paruk. Dalam proses itu, Rasus menemukan dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa ia mampu hidup tanpa bayang-bayang Emak yang selama ini menghantui pikirannya.
Bagian pertama novel ini terdiri dari sekitar 135 halaman—cukup untuk memberikan gambaran utuh tentang kehidupan Dukuh Paruk dan makna ronggeng di dalamnya. Dari bagian ini, aku menarik satu pelajaran penting: hidup dengan menggantungkan diri pada bayang-bayang orang lain hanya akan melahirkan penderitaan. Sebab ketika orang tersebut tak sesuai dengan gambaran yang kita ciptakan, kita akan kehilangan pegangan, lalu mulai meragukan banyak hal—termasuk diri kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar