[3] [Lebih dari Sahabat]
Rio tak pernah menyangka jika perasaannya kepada Kiara lebih dari sahabat. Ia tidak bisa lebih lama memendam perasaan tersebut. Ia ingin sekali mengungkapkannya tetapi di sisi lain ia juga takut kehilangan sahabat perempuan satu-satunya tersebut.
"Yooo.." panggil Kiara dari kejauhan. Tangannya melambai diiringi sebuah senyuman manis yang paling disukai Rio.
"Lo kemana aja, gue cari-cari ke ruang radio gak ada. Lo ga biasanya ada di taman," tanya perempuan yang kini duduk di sebelah Rio dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Gue ada perlu di sini."
"Lo ada perlu apa di taman, gak biasanya. Oh gue tau, gue tau, lo lagi janjian ya?" tebak Kiara sok tahu, "anak mana sekarang? Anak kedokteran lagi atau anak komunikasi?"
Rio hanya tersenyum ketika sahabatnya berusaha menebak perempuan yang kencan dirinya. Nyatanya hatinya tak pernah memilih perempuan mana pun, hanya ada sosok Kiara yang mengisi hatinya.
"Menurut lo anak mana?"
"Ah lo mah paling ga jauh dari anak-anak yang gue sebutin tadi. Lo kan nyari yang bening."
Rio menatapnya dan berbicara dalam hati, "lo salah Ra, gue gak pernah nyari yang lain. Gue selalu cinta sama lo."
"Lo tau aja pilihan gue," jawabnya dengan senyum pasi.
Belum lama mereka mengobrol tiba-tiba Kiara pamit. "Yaudah gue ke perpus dulu, gue gak mau ganggu kencan lo," kata Kiara bangkit dari duduknya dan menjinjing semua barangnya.
"Oh iya, niiih," ia memberikan minuman yang dibelinya sebelum menemui Rio.
"Apa ini?" tanya Rio dengan memperhatikan bulir es mulai keluar dari gelas kemasannya.
"Minuman, tadi gue beli buat lo juga. Yaudah gue duluan."
Rio mengangguk.
"Ra, kenpa lo ga pernah sadar sih kalo perasan gue ke lo itu lebih dari sekedar sahabat," ucapnya setelah beberapa detik Kiara pergi meninggalkannya sendiri di taman.
~~~

Komentar
Posting Komentar