"aku tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya? Tapi aku pernah merasakannya"
aku tidak tahu bagaimana rasanya? aku hanya sebatas melihat, mendengar dan memperhatikan. aku tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya? Apakah sangat sakit? Benar-benar sesak? Bahkan hampir bingung apa yang harus dilakukan untuk meredamnya? aku hanya sebatas melihat.
Namun jika berbicara kehilangan, aku pernah merasakannya, bukan hanya aku, mungkin kamu atau mereka pun pernah. Tapi aku tidak tahu apakah kadar rasanya sama? Antara aku, kamu dan mereka? aku tidak pernah tahu itu.
Yang aku ingat rasa kehilangan memang tak pernah bisa menuntut kita baik-baik saja. Terlebih lagi kehilangan seseorang yang memang benar-benar dekat dengan kita, selalu ada untuk kita, menjadi sandaran untuk setiap masalah kita, sosok terbaik dalam perhatian dan segala hal baik yang tak pernah kita balas.
Kehilangan kali ini bukan terpisah jarak antara satu kota, satu daerah, satu provinsi, satu negara. Tapi kehilangan yang terpisah ruang antara dunia sekarang dan dunia setelahnya. Kehilangan ini bukan kehilangan yang bisa disembuhkan dengan melihat beranda/feed memastikannya baik-baik saja tanpa kita. Kehilangan kali ini kita tak pernah bisa tahu dan benar-benar memastikan apa-apa tentangnya.
Terlalu jauh untuk memandangnya dan memperhatikannya. Terlalu tidak mungkin untuk bertemu dengannya lagi kecuali siap bergandengan dengan ajal lebih cepat. Tetapi meskipun begitu, tetap saja tidak menjamin apa-apa. Karena kita hanya manusia, tak pernah tahu apa setelahnya. Kita terbatas, benar-benar sebatas. Kita hanya bisa melangitkan doa. Doa dari seseorang yang terbuat dari tanah tetapi terkadang sombong dan tak mau melihat ke bawah. Entah diterima atau tidak, kita tak bisa menjamin apa-apa. Kita manusia yang selalu tidur dan tersadar ketika mati, begitu Nasihat Imam Ali bin Abi Thalib.
Kehilangan, aku tak baik-baik saja. Banyak hal yang kusesali selama ia masih ada. Banyak hal yang tak kukabulkan untuk sekadar menyenangkan hatinya. Kehilangan, aku tak baik-baik saja. aku egois dan tak peduli kepadanya, aku sibuk dengan dunia perbucinan masa SMA yang kata orang indah. Sekarang, aku menyesali banyak hal dan meskipun begitu aku tetap tidak bisa mengembalikannya dan membuatnya tetap bersamaku, mengembalikan kenangan-kenangannya merawatku dengan hati yang tulus.
Hari ini, mungkin sudah sangat terlambat, aku ingin mencoba kembali mengingat betapa hal-hal baik aku dapatkan darinya. aku tidak bisa menangis tersedu-sedu untuk meratapi kehilangan yang sudah berlalu bertahun-tahun. Hanya sesak ini semakin dalam meski tak diwujudkan dalam tangisan. aku tidak pernah tahu apakah ia ditempatkan di tempat terbaik-Nya, aku tidak bisa menerka-menerka. Tetapi aku berusaha meyakinkan diriku bahwa ia orang baik dan sudah sepantasnya ditempatkan di tempat-Nya yang paling terbaik. aku tahu Ia Maha Baik❤️
aku yang kecil, yang setiap harinya ia rawat. aku yang manja, yang setiap saatnya ia tenangkan. aku yang kecil dan belum menjadi dewasa ketika ia membagi hal-hal baik. aku ingin sekali mendekapnya dan berkata kepadanya bahwa hari ini aku sudah tumbuh menjadi orang yang berusaha baik seperti inginnya dulu. aku merasa sangat dicintai pada masanya.
Renjana luka tak termakan masa
Ia mendekat, mendekap bahkan membuat sesak
Menyapa diri, membuat tangguh
Tapi siapa sangka,
Semakin hari semakin rapuh
Lahaa Alfatihah🌷

Komentar
Posting Komentar