Di bawah Naungan Al Fatihah
Sebuah keputusan
Sang raja sibuk mengerjakan tugasnya membuat suatu surat keputusan untuk
membangun sebuah tempat pendidikan di area istananya. Tiba-tiba sang putri
sulung datang menghampiri raja dengan wajah yang penuh dengan keceriaan.
“ Ada apakah gerangan wahai putriku yang membawamu kemari?”: tanya sang
raja dengan rasa penasaran menyelimutinya karena tak biasanya putri sulungnya
datang menghampirinya kecuali sang putri mempunyai suatu hal yang sangat
penting untuk dibicarakan. Karena akhir-akhir ini sang raja begitu sibuk dengan
pekerjaannya maka sang raja jarang bertemu dengan putra putrinya.
“ Ayahanda, dinda ingin membicarakan perihal sekolah dinda.”: jawab sang
putri sulung dengan membawa secarik kertas di tangannya yang berisi tentang
suatu sekolah yang ingin ia duduki.
“ Oh tentang sekolahmu, ayahanda sudah membicarakan dengan ibunda kalau
dinda untuk saat ini tidak perlu sekolah ke negeri lain, cukup diam dulu di rumah
sampai waktu yang tepat yang mengharuskan dinda sekolah keluar.”
Seketika itu sang putri pun terdiam dan tertunduk di hadapan ayahandanya.
Dia bingung apa yang harus ia lakukan lagi untuk menentang perintah
ayahandanya. Karena dia dari kecil selalu taat kepada ayahandanya dan tidak
pernah sekali pun menentang apapun keputusan ayahandanya. Perlahan cairan
hangat membasahi pipi manisnya. Wajahnya yang terlihat sangat ceria tiba-tiba
berubah menjadi wajah yang dipenuhi dengan kesedihan.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kepala sang putri. Dan tangan itu
mengelus perlahan puncak kepalanya berusaha menenangkan keadaan sang putri.
“ Dinda, sudahlah jangan menangis. Ini semua ayah lakukan demi
kebaikanmu. Ayah masih ingin mendidik dinda dahulu sebelum dinda sekolah ke
negeri lain. Negeri ini harus ada sebuah sekolah agar rakyat kita tidak buta
huruf lagi. Ini semua ayah lakukan untuk kemaslahatan kita semua.”: bujuk sang
raja kepada putrinya dengan sikap yang bijaksana.
Sang putri pun berlari ke dalam kamarnya, karena sudah tidak tahan dengan
rasa kecewa yang ia rasakan sekarang ini. Sang raja pun terdiam di tempatnya
sambil memikirkan keputusannya kembali.
Dari sejak kecil sang putri memang mempunyai keinginan yang tinggi untuk
merantau ke negeri orang. Banyak hal yang ingin dia ketahui dan ingin dia
dapatkan dengan pengalamannya jika dia pergi ke negeri yang lain. Dia juga
sering mencari informasi dari berbagai sumber tentang negeri-negeri tetangga. Tapi
saat keputusan yang dilontarkan oleh ayahnya, semua keinginannya itu tinggal
kepingan-kepingan belaka. Dia merasa kecewa karena keinginannya itu harus
tertunda entah sampai kapan. Dia harus memendam semua cita-cita yang dia
inginkan dari dulu, pergi merantau....
Komentar
Posting Komentar