Mengapa "aku" Berbeda?

 

Hari ini, Si aku sedang bercermin menatap parasnya, tubuhnya dan dirinya. aku berbicara kepada cermin, yang menurut sebagian manusia adalah benda mati. Tetapi menurut sebagian manusia yang lain, ada Aku mewujud dalam cermin tersebut. Terkadang aku tersenyum, tetapi beberapa saat kemudian aku menangis. aku tersenyum ketika melihat Aku mewujud dalam diriku sangat sempurna. aku menangis ketika aku tak bisa melihat Aku meski dengan ibadah puluhan tahun lamanya. Dan sepertinya contoh kedua adalah contoh aku yang paling dekat dengan manusia sepertiku.


aku lahir dengan sebuah nama, kata yang dipercaya menjadi doa terbaik bagi pemiliknya. Lalu bagaimana jika namanya sudah bagus tetapi hati pemiliknya tak pernah bagus. aku lahir dari keluarga yang baik, lalu bagaimana jika aku tak menjadi orang baik? aku ini masih sering membual dan mempertanyakan takdir Tuhan. "Kenapa seperti ini, kenapa begini, kenapa begitu hingga pada pertanyaan yang krusial kenapa "aku" berbeda?"


aku lahir dari tempat yang sama yaitu" Rahim", tetapi kenapa aku selalu berbeda bahkan kemungkinan samanya hanya satu persen dari kemungkinan-kemungkinan yang ingin dimungkinkan. aku mulai getir dan banyak bercanda, "ah ini mimpi". Padahal sekarang kita tidak sedang bermimpi. Kita sedang menapaki perjalanan, tetapi terkadang aku tak menikmati perjalanannya. aku mengeluh bahwa sulit baginya memahami manusia. aku menangis karena lelah dirinya bersikap baik-baik saja. aku kesulitan karena nyata baginya dunianya bagai tempat pengasingan.


aku tak menikmati hidupnya. Hampa dan kedap suara. Tak ada benda mati, tak ada apa pun. Setidaknya jika ada benda mati masih kemungkinan ada Aku yang menemaninya. Tetapi hidupnya hampa, tak ada apa pun bahkan keberaniannya. aku kesepian, menangis sendirian di pojokan. Pojok yang tak beruang, tak terbatas, tak kesampaian. aku menatap cermin, menatap parasnya, tubuhnya dan dirinya.


aku kesepian selama belasan tahun. Hingga cahaya itu datang, mendekat lalu mendekap. Mengusap air matanya, meneguhkan tekadnya, melapangkan dadanya dan menghilangkan rasa khawatirnya. Aku datang ketika aku meyakini bahwa Aku tak pernah hilang, hanya saja kemarin aku sedang tak ingat pulang. Aku adalah segalanya, tak terbatas dan tak bisa disematkan kata "tak". Aku melingkupi segalanya, khawatirnya, bahagianya, sedihnya, tawanya, kecewanya, dan lain-lainnya. Hanya saja saat itu aku sedang lupa tuk pulang.


Hari ini, aku menatap cermin berkata kepadanya "aku akan pulang kepadaKu". aku menatap cermin dan tersenyum "aku akan segera menemukanKu". aku kembali menyunggingkan bibirnya seperi bulan sabit  "aku akan berusaha mendekatiKu hingga tak kudapati bahwa Aku adalah aku." aku menyadari bahwa perjalanan kita tak akan berhenti kecuali jika ajalku sudah tepat waktu atau aku membunuh diriku sendiri. aku menyadari bahwa perjalanan kita masih sangat panjang.


Perjalanan berliku, berlubang bahkan banyak rintangan. Perjalanan yang tak pernah abadi karena terbatas waktu. Tetapi perjalanan yang menjadi jembatan untuk melintasi perjalanan yang abadi. aku ingin pulih, aku ingin sembuh, aku ingin segera melakukan perjalanan tak terbatas itu. Namun aku masih takut, khawatir dan tak punya cukup bekal. Jika nanti kelaparan, kehausan, kesulitan, Aku hanya akan mengingatkan bahwa semuanya sudah selesai dan Aku tak bisa menjamin apa pun ketika pertanyaan itu ada. Oleh karena itu, saat ini aku sedang berjalan, memperbanyak bekal, menimbun berbagai hal untuk mendapatkan satu hal yang akan menjadi obat dari segala penyakitnya, ridhoKu.


Mengapa aku berbeda? Karena aku hanyalah aku bukan Aku.

~SelfHealing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIAT DALAM MENUNTUT ILMU

[RK2] Ilmu Mantiq: Apa hukum mempelajarinya?

Halaman