memori kehilangan

Ku tapaki jalanan sepi di ujung kota, terlihat dari kejauhan sosok berdiri tegap menghadap ke arahnya, entah apa yang sedang terjadi karena pada saat itu jalanan begitu gelap dan hanya lampu jalan yang menerangi malam itu. Sedikit demi sedikit kaki ku melangkah mendekati sosok itu karena rasa penasaran muncul dari hatiku. namun saat kaki ini berhenti tepat stu meter dari tempatnya berdiri, tiba-tiba ada sebuah cahaya menyilaukan mataku, cahaya apakah itu: pikirku dalam hati. ternyata cahaya tersebut diiringi dengan suara gerungan mesin yang begitu keras. dan cahaya itu pun redup dan menimbulkan teriakan kencang dari mulutku yang begitu terkejut melihat kejadian yang sebenarnya.
      Dia tertabrak dan ku lihat perlahan darah segar keluar dari kepalanya. tiba-tiba air mataku menetes perlahan membasahi pipiku, hatiku merasa ada hilang dari jiwaku. aku tersungkur jatuh tertunduk di depannya, aku masih belum tahu siapa sosok tersebut , karena badannya membelakangiku, tapi aku sangat merasakan bahwa dia adalah bagian dari diriku.

”Siapa dia”: teriakku dengan suara yang begitu serak dengan tangan yang terus memegang dadanya yang begitu sesak.
Orang-orang mulai berdatangan menghampiri sosok yang tidak berdaya tersebut. Aku masih di posisiku, menangis tersedu-sedu dan mulai bangkit untuk melangkah mendekati sosok tersebut dan ingin memastikan siapa dia sebenarnya. Baru satu langkah, tiba-tiba mataku dipenuhi dengan hitam dan aku pun terjatuh. Orang-orang mulai mengangkat tubuhnya yang lemah tak berdaya untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
Ruangan tidak begitu besar dihiasi dengan warna cat putih dan dilengakapi dengan semua peralatan medis yang terpasang di tubuh yang tak berdaya. Dirinya tertidur sendiri di ruangan tersebut tanpa ada satu orang pun menemani. Keluarganya belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada sosok tersebut, mungkin mereka mengkhawatirkannya atau tidak, tidak ada yang mengetahui. Di sebelah ruangan tersebut aku mulai bangkit dari tidurku dengan kepala yang masih pusing dan dada yang masih tetap merasa sesak. Tanganku perlahan memegang kepala yang pusing tersebut dan mulai mengingat kembali kejadian yang baru saja terjadi. Aku pun bangkit dari tempat tidur dan mulai berlari mencari keberadaan sosoknya, namun langkahnya terhenti karena ada genggaman tangan dari seseorang di belakangnya.
“ Reina, kamu mau kemana?”: tanya seorang pemuda yang ada tepat di belakangnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NIAT DALAM MENUNTUT ILMU

Halaman

[RK2] Ilmu Mantiq: Apa hukum mempelajarinya?